You are here: Home Artikel

Artikel Batik

Makna Motif Batik Parang (2)

E-mail Print PDF

Motif Parang identik dengan beralur miring 45 derajat. Komposisi miring pada parang menandakan kekuatan dan gerak cepat. Yang dipercaya memberi kekuatan magis pada batik bercorak parang itu adalah mlinjon, pemisah komposisi miring berbentuk seperti ketupat.

Corak parang berpola pedang menunjukkan kekuatan atau kekuasaan. Pada jaman dulu batik bercorak parang biasanya hanya diperuntukkan para ksatria dan penguasa. Menurut kepercayaan, corak parang harus dibatik tanpa salah agar tak menghilangkan kekuatan gaibnya.

Motif batik parang pada dasarnya tergolong sederhana, berupa lilitan huruf S yang jalin-menjalin membentuk garis diagonal dengan kemiringan 45 derajat. Susunan motif huruf S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar huruf S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat tidak pernah padam.

5. Parang Kusumo.

Mengandung makna hidup harus dilandasi oleh perjuangan untuk mencari keharuman lahir dan batin, ibaratnya keharuman bunga (kusumo). Demikianlah, bagi orang Jawa, hidup di masyarakat yang paling utama adalah keharuman pribadinya tanpa meninggalkan norma-norma yang berlaku dan sopan santun agar dapat terhindar dari bencana lahir dan batin.

Kain batik motif Parang Kusumo biasanya digunakan pada saat tukar cincin.

6. Parang Curigo.


Ciri khas dari pola ini adalah selalu ada ragam hias berbentuk belah ketupat yang juga sejajar dengan ragam hias utama pola parang, ragam hias ini disebut sebagai mlinjon.

Kegunaannya untuk menghadiri pesta. Si pemakai diharapkan memiliki kecerdasan, kewibawaan, serta ketenangan.


Masih banyak lagi jenis motif parang yang masing-masing memiliki filosofi tentunya.

abduh1.blogspot.com

Last Updated ( Monday, 30 December 2013 08:43 )
 

Makna Motif Batik Parang (1)

E-mail Print PDF

Salah satu motif batik yang terkenal adalah parang. Motif ini mempunyai ciri khas garis-garis lengkung, yang dapat diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam (raja). Komposisi miring pada parang juga melambangkan kekuasaan, kewibawaan, kebesaran, dan gerak cepat, sehingga pemakainya diharapkan dapat sigap dan cekatan.

Pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, motif parang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang dan menjadi ketentuan yang termuat dalam Pranatan Dalem Jenenge Panganggo Keprabon Ing Karaton Nagari Ngajogjakarta tahun 1927.

Dalam perkembangannya, motif parang memunculkan banyak variasi, seperti Parang Rusak, Parang Barong, Parang Kusuma, Parang Nitik, Parang Klithik, Parang Slobog, dsb.

Karena penciptanya pendiri Kerajaan Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya, dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa. Jenis batik itu kemudian dimasukkan sebagai kelompok batik larangan (batik yang tidak boleh dipakai oleh rakyat jelata).

Jenis-jenis motif parang

1. Parang Rusak

Motif ini merupakan motif batik sakral yang hanya digunakan di lingkungan kraton. Pada jaman dahulu, Parang Rusak biasanya digunakan prajurit setelah perang, untuk memberitahu Raja bahwa mereka telah memenangkan peperangan.

Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Konon, sang raja sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang terlihat seperti pereng (tebing) berbaris.

Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempat bertapa tersebut, ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena terkikis deburan ombak laut selatan, sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak

2. Parang Barong

Motif batik ini berasal dari kata “batu karang” dan “barong” (singa). Parang Barong merupakan parang yang paling besar dan agung, dan karena kesakralan filosofinya motif ini hanya boleh digunakan untuk Raja, terutama dikenakan pada saat ritual keagamaan dan meditasi.

Motif ini diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta.

Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Motif Parang Rusak Barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri

3. Parang Klitik

Motif batik yang menyimbolkan perilaku halus dan bijaksana. Dulu motif batik ini hanya dikenakan oleh para putri raja.

4. Parang Slobog

Motif batik yang menyimbolkan keteguhan, ketelitian, dan kesabaran.

Motif ini dulu dipakai pada upacara pelantikan para pejabat pemerintahan, karena melambangkan harapan agar para pejabat selalu diberi petunjuk dan kelancaran dalam menjalankan semua tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Selain untuk pelantikan pejabat, Slobokan atau parang Slobog hanya boleh dikenakan dalam acara pemakaman saja. Hal ini merupakan simbolisasi harapan agar arwah yang meninggal mendapatkan kemudahan dan kelancaran dalam perjalanan menghadap Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan keluarga yang ditingalkan juga diberi kesabaran dalam menerima cobaan kehilangan salah satu keluarganya.

apriliaisme.wordpress.com


 

Proses Pembuatan Batik

E-mail Print PDF

Berikut ini adalah proses membatik yang berurutan dari awal. Penamaan atau penyebutan cara kerja di tiap daerah pembatikan bisa berbeda-beda, tetapi inti yang dikerjakannya adalah sama.

1) Ngemplong

Ngemplong merupakan tahap paling awal atau pendahuluan, diawali dengan mencuci kain mori. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kanji. Kemudian dilanjutkan dengan pengeloyoran, yaitu memasukkan kain mori ke minyak jarak atau minyak kacang yang sudah ada di dalam abu merang. Kain mori dimasukkan ke dalam minyak jarak agar kain menjadi lemas, sehingga daya serap terhadap zat warna lebih tinggi.


2) Nyorek atau Memola

Nyorek atau memola adalah proses menjiplak atau membuat pola di atas kain mori dengan cara meniru pola motif yang sudah ada, atau biasa disebut dengan ngeblat. Pola biasanya dibuat di atas kertas roti terlebih dahulu, baru dijiplak sesuai pola di atas kain mori.

Tahapan ini dapat dilakukan secara langsung di atas kain atau menjiplaknya dengan menggunakan pensil atau canting. Namun agar proses pewarnaan bisa berhasil dengan baik, tidak pecah, dan sempurna, maka proses batikannya perlu diulang pada sisi kain di baliknya. Proses ini disebut ganggang.

3) Mbathik

Mbathik merupakan tahap berikutnya, dengan cara menorehkan malam batik ke kain mori, dimulai dari nglowong (menggambar garis-garis di luar pola) dan isen-isen (mengisi pola dengan berbagai macam bentuk). Di dalam proses isen-isen terdapat istilah nyecek, yaitu membuat isian dalam pola yang sudah dibuat dengan cara memberi titik-titik (nitik). Ada pula istilah nruntum, yang hampir sama dengan isen-isen, tetapi lebih rumit.

4) Nembok

Nembok adalah proses menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna dasar, dalam hal ini warna biru, dengan menggunakan malam. Bagian tersebut ditutup dengan lapisan malam yang tebal seolah-olah merupakan tembok penahan.

5) Medel

Medel adalah proses pencelupan kain yang sudah dibatik ke cairan warna secara berulang-ulang sehingga mendapatkan warna yang diinginkan.

6) Ngerok dan Mbirah

Pada proses ini, malam pada kain dikerok secara hati-hati dengan menggunakan lempengan logam, kemudian kain dibilas dengan air bersih. Setelah itu, kain diangin-anginkan.

7) Mbironi

Mbironi adalah menutupi warna biru dan isen-isen pola yang berupa cecek atau titik dengan menggunakan malam. Selain itu, ada juga proses ngrining, yaitu proses mengisi bagian yang belum diwarnai dengan motif tertentu. Biasanya, ngrining dilakukan setelah proses pewarnaan dilakukan.

8) Menyoga

Menyoga berasal dari kata soga, yaitu sejenis kayu yang digunakan untuk mendapatkan warna cokelat. Adapun caranya adalah dengan mencelupkan kain ke dalam campuran warna cokelat tersebut.

9) Nglorod

Nglorod merupakan tahapan akhir dalam proses pembuatan sehelai kain batik tulis maupun batik cap yang menggunakan perintang warna (malam). Dalam tahap ini, pembatik melepaskan seluruh malam (lilin) dengan cara memasukkan kain yang sudah cukup tua warnanya ke dalam air mendidih.

Setelah diangkat, kain dibilas dengan air bersih dan kemudian diangin-arginkan hingga kering. Proses membuat batik memang cukup lama. Proses awal hingga proses akhir bisa melibatkan beberapa orang, dan penyelesaian suatu tahapan proses juga memakan waktu. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kain batik tulis berharga cukup tinggi.


http://abduh1.blogspot.com

Last Updated ( Friday, 20 December 2013 08:57 )
 

Cara Sederhana Membedakan Batik Original dengan Batik Palsu

E-mail Print PDF

Unesco mengakui bahwa Batik Indonesia mempunyai teknik pembuatan dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia mulai dari lahir sampai meninggal dunia. Bayi digendong dengan batik bercorak simbol membawa keberuntungan. Dan yang meninggal ditutup dengan kain batik.

Batik yang diakui adalah batik yang pembuatannya menggunakan teknik tertentu, yaitu pembuatan coraknya menggunakan malam / lilin / wax.

Dan di Indonesia batik yang memenuhi syarat sebagai batik adalah Batik Tulis dan Batik Cap.

Tetapi batik yang saat ini mendominasi pasar ternyata batik palsu. Dan ironisnya mayoritas merupakan produk impor. Lebih disayangkan lagi Pemerintah seolah-olah tidak melakukan upaya apa pun untuk mengatasi ‘palsu-isasi’ batik.

Ada cara yang sederhana untuk membedakan antara batik original dengan batik palsu. Batik original, warna dan corak kain bagian luar dan bagian dalam sama warnanya. Warna bagian dalam sama tajamnya dengan bagian luar.

Batik Original

 

Sebaliknya, batik palsu warna bagian dalamnya samar-samar.

Batik Palsu

 

Nah, dengan cara yang sederhana ini sekarang kita bisa tahu apakah batik yang kita pakai adalah batik original atau batik palsu.

Last Updated ( Wednesday, 27 November 2013 13:56 )
 

Funtastic Meja Catur Batik

E-mail Print PDF

"Hai pak Abduh, teman saya suka sekali batik chess table. Dia bahagia. Meja enak sekali. Terima kasih."

Demikian testimoni pelanggan kami, istri seorang ekspat yang tinggal di kompleks perumahan mewah ekspat di Jakarta Selatan.

Bahkan karena puas dia memesan sampai 3 (tiga) buah Meja Catur Batik. Satu untuk dirinya dan dua  untuk temannya. Kemudian dia pesan 2 lagi untuk 2 temannya yang tinggal di Singapura. Dia berhasil membujuk rekan-rekannya untuk ikut memesan Meja Catur Batik. Tentu saja kami bahagia dengan testimoni dan bantuan pemasaran ini :).

Meja catur batik dibuat secara manual. Mirip seperti membatik tulis di atas kain. Bedanya adalah medianya di atas kayu. Untuk mebel batik unik ini masih jarang yang bisa mengerjakan.

Berikut sedikit kami tunjukkan bagaimana Meja catur batik dari kayu ini dibuat. Mudah-mudahan bisa membantu membayangkan langkah-langkah proses pembuatan meja catur batik.

 

 Membuat 'medan perang'

 

Membuat sketsa batik

 

 Membatik di kayu dengan canting

 

Mewarnai

 

Tolet: Memberi warna pada ruang-ruang kosong

 

Lorot: Menghilangkan malam (lilin) dengan cairan khusus yang mendidih

 

Inilah hasilnya. Meja catur batik.

Cocok untuk koleksi, hadiah, cinderamata.

 

sumber: abduh1.blogspot.com

Last Updated ( Thursday, 29 November 2012 10:25 )
 

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135
Page 2 of 8