You are here: Home Artikel

Artikel Batik

Batik Tradisional Cirebon yang Rawan

E-mail Print PDF

batik cirebon

 

Sekitar 400 motif batik tradisional Cirebon, yang belum terlindungi, menimbulkan kekhawatiran di kalangan seniman. Pihak asing bisa "mencuri" hak ciptanya bila pihak berwenang Indonesia tidak segera mendaftarkan motif-motif ini.

"Kami khawatir pihak asing dapat mengklaim motif-motif ini. Hal ini bisa menempatkan kami di tempat yang buruk, "kata Katura, dari asosiasi pengrajin batik Cirebon.

"Kami mendesak pemerintah memberikan perhatian serius terhadap masalah ini."

Dia menambahkan bahwa perlindungan dan dukungan pemasaran dari pemerintah dan pemkot/pemkab sangat dibutuhkan untuk membantu mengembangkan industri batik yang selama beberapa generasi telah terpelihara dengan baik. "Mayoritas pengrajin batik di Cirebon telah menghadapi kesulitan dalam melakukan penetrasi pasar baik domestik atau internasional," kata Katura

"Kurangnya promosi menjadi salah satu sebab batik Cirebon kurang terkenal dibandingkan batik dari daerah lain. Hanya sedikit yang benar-benar masuk ke pasar domestik," katanya.

Dikenal sebagai batik Trusmi, yang merujuk pada sentra produksi batik terbesar di Kabupaten Plered, Cirebon, batik diyakini telah ada sejak abad ke-14, setelah pembentukan kesultanan Kasepuhan Cirebon. Proses pembuatan batik, kata Katura, pada awalnya dikembangkan di dalam kesultanan, dan kemudian menyebar ke masyarakat luas, mencapai daerah pesisir di kawasan itu.

"Batik Trusmi terkenal karena dua motif utama: keratonan dan pesisiran," kata Katura, batik Trusmi merupakan generasi kedelapan pengrajin.

Motif keratonan, dikembangkan di dalam kompleks kesultanan, dicirikan dengan motif-motif ornamen istana digambarkan dalam warna gelap, didominasi oleh hitam dan coklat. Contoh motif ini termasuk Panji Sumirang, Naga Seba, Sawunggaling dan Mega Mendung.

Motif pesisiran, di sisi lain, dikembangkan di daerah pesisir dan didominasi oleh motif flora dan fauna, dengan warna-warna cerah seperti merah, hijau, dan biru. "Meskipun kedua motif jarang diproduksi akhir-akhir ini, mereka masih ada," kata Katura. "Fakta bahwa motif tradisional ini sulit untuk ditemukan adalah karena sebagian besar pengrajin memproduksi batik yang disesuaikan dengan tren pasar," tambahnya.

Batik kini menjadi produk ketiga bernama Warisan Dunia Non-benda, setelah Wayang (wayang kulit) dan Keris.

Unesco menamakan wayang sebagai "Mahakarya Lisan dan Warisan Kemanusiaan Non-bendawi" pada bulan November 2003. Dan memberikan Keris status yang sama pada bulan November 2005.

sumber: http://abduh1.blogspot.com

 

Last Updated ( Tuesday, 01 March 2011 09:59 )
 

Batik Garut yang Perlu Perhatian

E-mail Print PDF

batik garut Kegiatan dan usaha pembatikan di Garut merupakan warisan nenek moyang yang berlangsung turun temurun dan telah berkembang lama sebelum masa kemerdekaan. Pada tahun 1945 Batik Garut semakin populer dengan sebutan Batik Tulis Garutan dan mengalami masa jaya antara tahun 1967 s.d. 1985 (126 unit usaha).

Dalam perkembangan berikutnya produksi Batik Garutan mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh semakin pesatnya batik printing, kurangnya minat generasi penerus pada usaha batik tulis, ketidaktersediaan bahan dan modal, serta lemahnya strategi pemasaran.

Batik garutan umumnya digunakan untuk kain sinjang, namun berfungsi juga untuk memenuhi kebutuhan sandang dan lainnya. Bentuk motif batik Garut merupakan cerminan dari kehidupan sosial budaya, falsafah hidup, dan adat-istiadat orang Sunda. Beberapa perwujudan batik Garut secara visual dapat digambarkan melalui motif dan warnanya.

Berdasarkan pemikiran yang melatarbelakangi penciptaan batik Garut, maka motif-motif yang dihadirkan berbentuk geometrik sebagai ciri khas ragam hiasnya. Bentuk-bentuk lain dari motif batik Garut adalah flora dan fauna. Bentuk geometrik umumnya mengarah ke garis diagonal dan bentuk kawung atau belah ketupat. Warnanya didomiansi oleh warna krem dipadukan dengan warna-warna cerah lainnya yang merupakan karakteristik khas batik garutan. Saat ini pengolahan batik garutan terkonsentrasi di Garut Kota.

Rata-rata kapasitas produksi per tahun adalah 1.296 potong. Masih sedikit jika dibanding kota-kota lain. Perlu perhatian serius untuk melestarikan Batik Garutan ini.

 

sumber: DekranasJabar
 

Dari Nongkrong Terbitlah Bisnis

E-mail Print PDF

Kamis sore kami kedatangan jurnalis Warta Kota setelah sebelumnya sepakat untuk bertemu. Mereka tertarik untuk menulis usaha kami karena dianggap unik. Pembicaraan sangat santai dan mengalir....

nongkrong

Sehingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan saatnya salat Isya. Padahal yang efektif untuk wawancara kurang dari satu jam. Berarti tempat kami memang cocok buat nongkrong, ngobrol, menunggu... :)
Pembicaraan kami ternyata dimuat di Warta Kota edisi Minggu, 3 Oktober 2010. Terima kasih Warta Kota

enak

sumber: abduh1.blogspot.com
 

Batik Unik Tanah Liek

E-mail Print PDF

batik tanah liek Setahun sudah batik diakui Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya atau UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Batik yang selama ini dikenal sebagai budaya masyarakat Jawa, ternyata juga dijumpai di Sumanik, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.


Masyarakat di sana menyebutnya dengan batik tanah liek, yang artinya batik tanah liat. Uniknya, tak seperti di Jawa, mereka memproduksi batik yang direndam dalam tanah liat untuk memunculkan warna yang berbeda. Proses perendaman untuk membuat batik ini dilakukan sebelum dan sesudah pembuatan. Pewarnanya pun berasal dari tumbuhan, seperti getah gambir untuk warna merah atau getah kulit jengkol untuk warna hitam.


Batik Ranah Minang punya ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan batik Jawa, baik corak mapun warna. Terutama, media pewarna dasar kain berupa tanah liat dengan cara merendam dasar kain yang belum dibubuhi motif batik ke dalam larutan tanah liat. Perendaman ini bisa memakan waktu lebih dari satu hari untuk mendapatkan ketahanan warna tanah yang menyatu dengan kain. Setelah itu, kain dicuci bersih lalu dibubuhi motif batik, seperti kaluak paku, itiak pulang patang, parang rusak, maupun motif berupa kekayaan flora dan fauna alam Ranah Minang.


Di Sumbar, sentra batik tanah liek ada di tiga daerah, yakni Padang dengan Batik Monalisa, di Dharmasraya dan Pesisir Selatan. Meski sama-sama batik tanah liek, namun motif di masing-masing daerah berbeda-beda sesuai topografi dan kekayaan alam masing-masing. Di Dharmasraya misalnya, selain motif dasar, juga ada pembaharuan motif seperti bunga sawit yang terinspirasi dari bunga sawit yang mekar di perkebunan sawit yang banyak terdapat di daerah ini.


Batik tanah liek adalah batik khas Minangkabau yang motifnya dibuat dari pewarna berbahan tanah liat. Tak ada catatan sejarah sejak kapan kerajinan batik tanah liek muncul di Sumatera Barat. Tetapi diyakini telah dikenal masyarakat Minang sejak abad ke-16 dan digunakan sebagai kain adat. Diduga batik ini muncul dari pengaruh kebudayaan Cina dan hanya dibuat beberapa orang perajin seperti di Tanah Datar. Tapi kerajinan ini hilang tanpa jejak sejak zaman peperangan, mungkin zaman pendudukan Jepang. Hingga kemudian diperkenalkan kembali pada 1994.


Proses pembuatan sehelai batik tanah liek tulis yang memakan waktu satu hingga dua bulan ini menjadikan harga warisan budaya dari Ranah Minang tersebut mencapai Rp 2 juta sehelainya. Anda berminat mengoleksinya?

sumber :

-liputan6
-shvoong
-west sumatra
 

Open Source Ungkap 'DNA' Batik

E-mail Print PDF

dna batik Siapa menyangka dari hasil pembicaraan santai sekelompok anak muda di Bandung seputar batik akhirnya menghasilkan inovasi teknologi yang berpotensi memajukan industri batik. Dibantu para peneliti di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), tim yang menyebut dirinya Pixel People Project berhasil mengembangkan software untuk mengungkap kekhasan atau "DNA" batik untuk mengidentifikasi motif asli Indonesia dan membuat motif variannya dengan cepat.


"Setelah dipelajari batik sebetulnya suatu bentuk perulangan yang disebut fraktal. Dalam matematika itu berkaitan dengan teori chaos," ujar Idwan Suhardi Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementrian Riset dan Teknologi di Jakarta, Rabu (11/6). Hal tersebut disimpulkan setelah tim BPPT melakukan melakukan analisis terhadap 300 motif batik dari Sumatera, Jawa, Madura, dan daerah lainnya..

Bahkan dari analisis tersebut dapat diketahui motif dasar atau boleh dibilang DNA batik. Dari motif dasar diketahui rumus matematikanya sehingga dengan mengubah-ubah variabel yang mempengaruhi dapat dibuat variasi motif yang sangat banyak. Dengan teknik tersebut, pembuatan desain baru dapat dilakukan dengan cepat bahkan setiap saat apalagi telah dikembangkan software yang siap pakai.

Ada dua parameter yang digunakan untuk menyusun

 

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135
Page 8 of 9