You are here: Home Artikel

Artikel Batik

Ciri Khas Corak Batik Kebumen

E-mail Print PDF

Jika menilik letak geografis wilayah Kabupaten Kebumen, dan juga dari ketidakjelasan sejarah keberadaan batik Kebumen sendiri, maka sangat wajar jika dalam implementasi nyata pada motif-motif yang ada, batik Kebumen terkesan unik. Teguh Budiyanto, salah satu pembatik di Desa Seliling, menyatakan bahwa batik Kebumen merupakan bawaan model dari kerajaan di Solo dan Yogyakarta, karena menurutnya, orang-orang sebelum dirinya telah belajar batik dari dua kota tersebut sebelum akhirnya kembali ke Kebumen dan mengembangkan Batik di daerahnya sendiri. Artinya Pak Teguh hendak menegaskan bahwa motif batik Kebumen lebih cenderung bercorak pedalaman yang menginduk pada model-model batik keraton. Namun dia juga mengakui bahwa pada perkembangannya, beberapa motif warna cerah ala pesisiran mulai disukai para pembeli.

Mengenai motif tradisional Kebumen, Pak Teguh menyatakan paling tidak ada empat motif tradisional Kebumen yang dikenal secara turun temurun. Dia menyebutkan ada Jagatan Kebumen, Bang-bangan, Sirkit, dan Gringsing Kebumen. Dia bahkan menyatakan bahwa Gringsing Kebumen sangat unik dan merupakan batik tulis terhalus, bukan saja secara nasional, bahkan internasional.

Sementara menurut Ibu Wahyuni, pengrajin batik Desa Jemur, ciri utama dari motif batik Kebumen adalah pada warnanya. Menurutnya, jika masalah corak, bentuk, atau gambar bisa saja dipersamakan dengan daerah-daerah lain seperti Banyumas, Pekalongan, dan sebagainya. Namun masalah warna, Kebumen memiliki ciri khusus yaitu pada beragamnya warna yang digunakan. Dalam satu kain batik bisa sampai 4 warna, sedang biasanya batik secara umum hanya memakai dua kombinasi warna saja. Warna khas yang digunakan di Kebumen menurutnya adalah warna biru tua, biru muda, hijau, dan hitam. Wahyuni dengan tegas menyatakan bahwa model pewarnaan seperti itu hanya dikenal di Kebumen. Di daerah lain tidak ada. Dia menyebutnya sebagai warna klasik asli Kebumen.

Berkaitan dengan pengaruh motif batik yang berkembang di Kebumen, Wahyuni menilai kalau motif dasar atau baku model Kebumen memang tidak dikenal. Adanya motif-motif yang muncul di Kebumen itu bersifat baru atau kontemporer, hanya cara atau model pewarnaannya saja yang unik dilihat dari kombinasinya. Ketika ditanyakan tentang orisinalitas, dia mengaku tidak terpengaruh dari motif luar. Beberapa motif yang dia hasilkan berasal dari pemikirannya sendiri yang terinspirasi oleh alam sekitarnya.

Berbeda dengan Pak Muhtadin yang tetap mempertahankan pakem dalam hal membatik. Batik yang dikerjakannya hanya model/motif klasik khas Kebumen. Sejauh ini Pak Muhtadin dan beberapa pengrajin di Kelompok Pengrajin Batik “Mekar Sari” hanya mengerjakan batik tulis klasik. Tidak ada motif lain yang coba dia kembangkan. Namun dia pernah mencoba sekali membuat kreasi dalam hal motif. Dia terinspirasi dari berbagai potensi Kebumen, sehingga motif ciptaannya dia namakan motif “sebagian potensi Kebumen”. Warna yang ditampilkan dalamkreasi batik Pak Muhtadin cenderung ke warna cerah dan warna muda. Berikutgambar motif batik hasil kreasi Pak Muhtadin:

Berdasarkan pada keterangan dari beberapa sumber yang terkait, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa pada dasarnya motif batik Kebumen lebih bercirikan ke model pesisir, mengingat jenis warna yang digunakan lebihcenderung pada warna muda. Namun karena lokasi daerah batik yang berada dilereng bukit dan dekatnya dengan dunia pantai, maka ada percampuran ataukombinasi secara alami dalam kondisi geografisnya, antara dunia pesisir dan dunia pegunungan. Motif yang berkembang kemudian lebih banyak bernuansa flora dan fauna, dedaunan, bunga, hewan, dan unggas, serta ikan.

Mengenai motif tradisional yang bersifat turun temurun, ternyata tidak ada kesepahaman di antara para pengrajin sendiri. Pemerintah Kabupaten Kebumen sendiri tidak pernah memberikan semacam justifikasi atas suatu motif sebagaimotif batik tradisional Kebumen.

Beberapa motif batik Kebumen yang saat ini telah terdaftar di Ditjen HKI merupakan motif-motif yang diciptakan oleh para pengrajin Kebumen, bukan motif tradisional yang telah ada sejak masa lalu dan diajarkan secara turun temurun. Sementara ini, perbedaan yang mencolok antara batik Kebumen dan batik luar adalah pada hal pewarnaan saja. Wahyuni berani memberikan jaminan bahwa model kombinasi warna klasik asli Kebumen, belum ada di daerah lain, karena sangat khas dan tua.

Dengan demikian, corak dasar batik Kebumen yang membedakan dengan batik-batik di luar adalah pada model pewarnaan yang unik yang belum bisa ditiru oleh pengrajin batik di luar daerah. Sedangkan mengenai gambar pada motif Kebumen secara keseluruhan bersifat baru dan lebih banyak terinspirasikan dari gambaran alam, baik flora, fauna, maupun arsitektur. Selera pasar menjadi standar utama, namun kekhasan warna tetap menjadi perhatian.

Secara tegas ciri khas batik Kebumen dapat dirumuskan sebagai berikut:

Motif-motifnya bernuansa alam, baik flora seperti dedaunan dan bunga, maupun fauna seperti burung-burungan, baik daerah bebukitan maupun kehidupan pantai seperti ikan.

Warna yang digunakan lebih banyak bersifat terang dan kombinasinya antara biru muda, biru tua, hijau, hitam, serta merah.

Motif yang banyak dijumpai antara lain Jagatan Kebumen, Gringsing, sirkit, dan bang-bangan.

Hilangnya Nilai Filosofi dan Makna Motif batik

Bagi beberapa pengrajin batik Kebumen, batik merupakan salah satu jalan hidupnya. Artinya mereka membatik dengan murni motivasi seni dan hobi bukan sekedar motif ekonomi. Bagi para pengrajin batik Kebumen, batik bukan lagi sebuah kesenian yang eksklusif dan terikat dengan budaya keraton lagi sebagaimanasejarah batik pada masa lampau. Batik dengan beragam motif memiliki maknakhusus tersendiri, baik budaya mapun spiritual. Kadang motif batik bermakna doa,dan kedudukan sosial, atau prosesi budaya yang tengah dijalankan, atau bahkanhanya sebatas seni artistik semata.

Motif-motif batik yang berkembang di Kebumen lebih pada nilai seni artistik. Artinya nilai batik di lihat dari keindahan dan kerumitan cara dan hasil prosesnya.Bukan pada nilai budaya yang melatar belakanginya. Dari beberapa pengrajin yang berhasil ditemui, mereka mengaku bahwa motif-motif baru yang mereka hasilkan murni berasal dari pengamatan indra penglihatan, seperti alam, tumbuh-tumbuhan, hewan dan suasana. Tidak ada yang menggambarkan abstraksi makna, seperti motif yang bermakna sikap dan niai-nilai moral atau harapan-harapan. Semua disandarkan pada objek nyata yang terlihat dan terasa. Bahkan ketika mereka dimintai keterangan mengenai arti dari beberapa jenis motif yang telah mereka hasilkan, pengrajin sendiri kurang begitu mengerti. Semuanya hanya berdasarkan tradisi turun-temurun atau berdasarkan pengamatan pada alam sekitar. Jawaban ini dimungkinkan juga karena keterputusan tradisi dan budaya membatik dari para pendahulunya. Regenerasi batik diturunkan hanya pada taraf seni kerajinan membatiknya saja tanpa transformasi mengenai filosofi dari motif-motif yang dibuat.

Namun ada juga motif Jagatan Kebumen yang menggambarkan keanekaragaman budaya etnis dan kekayaan alam Kebumen. Motif batik tersebut berusaha merangkum beberapa gambaran dari pantai, karang, burung, dan tumbuh-tumbuhan. Motif batik yang berkembang lebih banyak disandarkan pada esensi artistik gambar yang berusaha menggambarkan keanekaragaman alam dan budaya dalam selembar kain.

 

sumber: Bambang Wibiono (www.academia.edu/3441681/batik_kebumen)

 

Batik untuk Pengantin (2)

E-mail Print PDF

Truntum

Motif Truntum diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III). Bermakna cinta yang tumbuh kembali. Beliau menciptakan motif ini sebagai symbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin terasa subur berkembang (tumaruntum).

Karena maknanya, kain bermotif truntum biasa dipakai oleh orang tua pengantin pada hari penikahan. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua mempelai. Kadang dimaknai pula bahwa orang tua berkewajiban untuk “menuntun” kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru.

Ratu Ratih - Semen rama

Ratu ratih dari kata ratu patih, ada pula yang menterjemahkan tunjung putih (ratu yang dijunjung atau diembani patih karena usianya masih muda). Di dalam batik ini dikaitkan dengan suatu kemuliaan, keagungan pribadi yang bisa menyesuaikan dengan alam lingkungan.

Beberapa ornamen utama yang ada dalam motif ini adalah ornamen yang berhubungan dengan daratan, lautan, udara, serta ornamen yang berhubungan dengan paham Triloka atau Tribawana (3 dunia: dunia tengah tempat hidup manusia, dunia atas tempat para dewa dan para suci, dunia bawah tempat yang dipenuhi angkara murka).

Dilihat dari namanya batik ini muncul pada masa pemerintahan Pakoe Boewono VI, dimana pada saat diangkat menjadi raja, beliau masih muda dan didampingi oleh patihnya pada tahun 1824 masehi.

Motif Semen Rama dimaknai sebagai penggambaran dari “kehidupan yang semi” (kehidupan yang berkembang atau makmur). Terdapat beberapa jenis ornamen pokok pada motif-motif semen. Yang pertama adalah ornamen yang berhubungan dengan daratan, seperti tumbuh-tumbuhan atau binatang berkaki empat.

Kedua adalah ornamen yang berhubungan dengan udara, seperti garuda, burung, dan megamendung. Sedangkan yang ketiga adalah ornamen yang berhubungan dengan laut atau air, seperti ular, ikan dan katak. Jenis ornament tersebut kemungkinan besar ada hubungannya dengan paham Triloka atau Tribawana.

Paham tersebut adalah ajaran tentang adanya tiga dunia; dunia tengah tempat manusia hidup, dunia atas tempat para dewa dan para suci, serta dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya tidak benar/dipenuhi angkara murka. Motif Semen sendiri biasanya merupakan penggambaran dari kehidupan yang bersemi, berkembang atau makmur.

Dua motif batik kembar sepasang (sawitan) ini umumnya dikenakan pasangan mempelai sebagai lambang kesetiaan istri terhadap suaminya..

Wahyu Tumurun

Batik motif wahyu tumurun merupakan salah satu motif yang banyak disukai karena keindahan pola dan filosofinya yang mendalam.

Motif utamanya yaitu pola mahkota terbang tampak lebih menonjol dengan tambahan motif sepasang ayam atau burung yang berhadap-hadapan.

Pola dalam motif batik wahyu tumurun memiliki makna dan harapan agar orang yang mengenakannya memperoleh anugerah kebahagiaan dari Sang Pencipta di masa mendatang. Batik ini biasa dikenakan oleh mempelai pengantin saat upacara penikahan adat Jawa.


 

Batik untuk Pengantin (1)

E-mail Print PDF

Bagi mempelai yang memilih pernikahan ala tradisional Jawa, hampir dapat dipastikan memilih kain batik untuk melengkapi busana pengantinnya. Seperti juga berbagai tata cara dalam rangkaian upacara tradisional Jawa yang sarat makna, corak kain pengantin tradisional juga memiliki makna, nilai, serta filosofi yang berbeda satu dengan lainnya.

Oleh karena itu, seorang mempelai sebaiknya memahami terlebih dahulu corak atau motif apa saja yang umum digunakan dalam pernikahannya dan tidak hanya memilih kain batik pengantin hanya berdasarkan keindahan coraknya saja. Dalam acara pernikahan, dianjurkan agar mempelai menggunakan kain batik bermotif yang diawali dengan kata ‘sida/sido’ yang berarti ‘jadi’, seperti:

Sido Mulyo

Kain batik pengaruh Kraton yang berasal dari daerah Banyumas ini pantas dikenakan oleh mempelai pria maupun wanita dan memiliki makna hidup dalam kemuliaan, kebahagiaan serta limpahan rejeki.

Sido Luhur

Batik dari daerah Kraton Surakarta ini memiliki makna keluhuran atau budi luhur yang dijunjung tinggi dalam hidup. Keluhuran yang dimaksud adalah keluhuran secara lengkap, baik materi maupun non materi. Keluhuran materi mengandung makna hidup berkecukupan, mencukupi segala kebutuhan ragawi dengan bekerja keras sesuai pekerjaan, jabatan, pangkat / derajat maupun profesinya.

Sedangkan keluhuran non materi antara lain terdiri dari keluhuran budi, tindakan serta ucapan. Corak batik Sidoluhur ini sangat cocok digunakan oleh mempelai wanita di malam pengantin.

Sido Asih

Corak Sidoasih berasal dari daerah Kraton Surakarta dengan makna harapan agar hidup rumah tangga kedua mempelai selalu dipenuhi kasih sayang. Kain batik dengan motif ini juga cocok digunakan mempelai wanita di malam pengantin.

Sido Mukti

Jenis batik petani dari daerah Surakarta ini biasanya dikenakan mempelai pria dan wanita saat resepsi berlangsung. Corak kain batik ini memiliki makna tercapainya mukti atau kemakmuran dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Kain batik yang bernama lain Sawitan (sepasang) ini juga melambangkan doa dan harapan terciptanya masa depan yang penuh kebaikan.

Sido Wirasat

Dalam corak kain batik Sidowirasat biasanya disertai dengan paduan motif truntum. Motif ini menjadi simbol nasehat yang selalu diberikan orang tua untuk menuntun kedua mempelai dalam memasuki mahligai hidup berumahtangga.


http://abduh1.blogspot.com

 

Makna Motif Batik Parang (2)

E-mail Print PDF

Motif Parang identik dengan beralur miring 45 derajat. Komposisi miring pada parang menandakan kekuatan dan gerak cepat. Yang dipercaya memberi kekuatan magis pada batik bercorak parang itu adalah mlinjon, pemisah komposisi miring berbentuk seperti ketupat.

Corak parang berpola pedang menunjukkan kekuatan atau kekuasaan. Pada jaman dulu batik bercorak parang biasanya hanya diperuntukkan para ksatria dan penguasa. Menurut kepercayaan, corak parang harus dibatik tanpa salah agar tak menghilangkan kekuatan gaibnya.

Motif batik parang pada dasarnya tergolong sederhana, berupa lilitan huruf S yang jalin-menjalin membentuk garis diagonal dengan kemiringan 45 derajat. Susunan motif huruf S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar huruf S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat tidak pernah padam.

5. Parang Kusumo.

Mengandung makna hidup harus dilandasi oleh perjuangan untuk mencari keharuman lahir dan batin, ibaratnya keharuman bunga (kusumo). Demikianlah, bagi orang Jawa, hidup di masyarakat yang paling utama adalah keharuman pribadinya tanpa meninggalkan norma-norma yang berlaku dan sopan santun agar dapat terhindar dari bencana lahir dan batin.

Kain batik motif Parang Kusumo biasanya digunakan pada saat tukar cincin.

6. Parang Curigo.


Ciri khas dari pola ini adalah selalu ada ragam hias berbentuk belah ketupat yang juga sejajar dengan ragam hias utama pola parang, ragam hias ini disebut sebagai mlinjon.

Kegunaannya untuk menghadiri pesta. Si pemakai diharapkan memiliki kecerdasan, kewibawaan, serta ketenangan.


Masih banyak lagi jenis motif parang yang masing-masing memiliki filosofi tentunya.

abduh1.blogspot.com

Last Updated ( Monday, 30 December 2013 08:43 )
 

Makna Motif Batik Parang (1)

E-mail Print PDF

Salah satu motif batik yang terkenal adalah parang. Motif ini mempunyai ciri khas garis-garis lengkung, yang dapat diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam (raja). Komposisi miring pada parang juga melambangkan kekuasaan, kewibawaan, kebesaran, dan gerak cepat, sehingga pemakainya diharapkan dapat sigap dan cekatan.

Pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, motif parang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang dan menjadi ketentuan yang termuat dalam Pranatan Dalem Jenenge Panganggo Keprabon Ing Karaton Nagari Ngajogjakarta tahun 1927.

Dalam perkembangannya, motif parang memunculkan banyak variasi, seperti Parang Rusak, Parang Barong, Parang Kusuma, Parang Nitik, Parang Klithik, Parang Slobog, dsb.

Karena penciptanya pendiri Kerajaan Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya, dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa. Jenis batik itu kemudian dimasukkan sebagai kelompok batik larangan (batik yang tidak boleh dipakai oleh rakyat jelata).

Jenis-jenis motif parang

1. Parang Rusak

Motif ini merupakan motif batik sakral yang hanya digunakan di lingkungan kraton. Pada jaman dahulu, Parang Rusak biasanya digunakan prajurit setelah perang, untuk memberitahu Raja bahwa mereka telah memenangkan peperangan.

Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Konon, sang raja sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang terlihat seperti pereng (tebing) berbaris.

Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempat bertapa tersebut, ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena terkikis deburan ombak laut selatan, sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak

2. Parang Barong

Motif batik ini berasal dari kata “batu karang” dan “barong” (singa). Parang Barong merupakan parang yang paling besar dan agung, dan karena kesakralan filosofinya motif ini hanya boleh digunakan untuk Raja, terutama dikenakan pada saat ritual keagamaan dan meditasi.

Motif ini diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta.

Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Motif Parang Rusak Barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri

3. Parang Klitik

Motif batik yang menyimbolkan perilaku halus dan bijaksana. Dulu motif batik ini hanya dikenakan oleh para putri raja.

4. Parang Slobog

Motif batik yang menyimbolkan keteguhan, ketelitian, dan kesabaran.

Motif ini dulu dipakai pada upacara pelantikan para pejabat pemerintahan, karena melambangkan harapan agar para pejabat selalu diberi petunjuk dan kelancaran dalam menjalankan semua tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Selain untuk pelantikan pejabat, Slobokan atau parang Slobog hanya boleh dikenakan dalam acara pemakaman saja. Hal ini merupakan simbolisasi harapan agar arwah yang meninggal mendapatkan kemudahan dan kelancaran dalam perjalanan menghadap Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan keluarga yang ditingalkan juga diberi kesabaran dalam menerima cobaan kehilangan salah satu keluarganya.

apriliaisme.wordpress.com


 

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 8